Seluk Beluknya membuat SIM
Tahun 2001 saya memulai membuat SIM (Führerschein) di jerman. Kalau ingat kala itu benar2 waktu yang melelahkan. Bagaimana tidak, ternyata membuat SIM di sini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dulu memang masih sedikit saru. Selalu menggampangkan sesuatu hal. Karena SIM dari indonesia telah kupunya yang berlaku 5 tahun. Dalam hati saya juga heran kok tidak berlaku seumur hidup ya kaya di jerman. Kalau sudah bisa nyetir, kenapa harus membuat SIM lagi ??? Naah inilah aneh bin ajaibnya indonesiaku hehehe.. kursus menyetir aja murah banget waktu itu kalo nggak salah 200ribu perak. Bikin SIMnya pun tanpa tes, bisa jadi. Soal rambu2 lalu lintas , mau ngerti atau tidak, nggak masalah. Kalau dgn tes, harganya beda dan lama keluarnya. Rata2 semua orang malaslah menunggu.
Dengan PDnya saya tuh bilang ke suami alaaah, saya kan sudah punya SIM indonesia, kenapa juga harus lama mengurusnya. Soalnya dia tahu kalau bikin SIM di jerman itu mahal sekali. Kenapa nggak ke ADAC saja, dengan menerjemahkan dan membayar biaya penggantian dari SIM indonesia ke SIM jerman ? Yang ternyata SIM indonesiaku tak diakui . Percuma uang 70 euro buat ADAC. Alamaaaak alamat suami harus keluar uang banyak . Benar saja setelah kami pergi ke Fahrschule (Sekolah menyetir mobil), lihat harga2nya yg berurutan :
| Anmeldung | 210 Euro (daftar saja) | |||||
| Pflichstunde min 12 x | 36 Euro (saya kena 40 kali latihan nyetir. he he he bolot sih) | |||||
| Fahrstunden (Latihan) | 28 Euro | |||||
| Pruefung (ujian praktek) | 110 Euro | |||||
| Theor Pruefung (Ujian Teori) | 32 Euro | |||||
| TUEV Gebuehren (biaya pemeriksaan) | 115 Euro | |||||
| Amt (laporan kantor) | 50 Euro | |||||
| Sahtest (tes mata) | 6 Euro | |||||
| Foto fuer Fuerehrschein | 10 Euro | |||||
| Erste Hilfe (biaya P3K) | 11 Euro |
Sebelum latihan setir mobil, harus mengikuti pelajara teori ( Theoretische Unterricht) selam 6 jam pelajaran. Kalau sudah yakin menguasai marka jalan dan tata tertib lalu lintas, baru bisa mengikuti ujian teori yang tidak boleh salah. Boleh salah tapi cuma satu, kalau melebihi punkte/nilai yg telah ditetapkan, yaaah harus mengulang lagi. Kadang ada berberapa orang Jerman yg selalu melakukan kesalahan ujian teori. Kalau sampai dgn 3x tidak lulus-lulus juga, terpaksa harus mengikuti tes idiot alias mengerjakan teorinya orang2 idiot. Alhamdulilah dengan panas dingin ketika itu maklum bahasa jermannya lupa lagi , ujian teori bisa lulus.Setelah ujian teori lulus, baru kita bisa mengambil latihan menyetir (Fahrstunden). Latihan menyetir di jalan raya, jalan tol yang harganya lebih mahal dari jalan raya biasa dan di waktu malam. Paling nggak enak latihan menyetir malam hari di bln juni dan juli. Karena mulai gelap gulita jam 23.30. Pas ujian praktek inilah yang paling susah. Selain pengujian cara kita parkir dan keluar dr tempat parkir hiiy paling ngeri emang rückwärtparken, susah lihat kebelakang. Diujikan juga menyetir di jalan tol, yang minimal kecepatannya 120km/jam. Maklumlah di Jerman rata2 kalau mau ke mana-mana selalu menggunakan Autobahn (jln tol), di setiap jalan antar kota ada jln tolnya. Hiks..hikss diujian ini saya nggak lulus. Masalahnya saya diharuskan oleh penguji mendahului LKW/truck gandeng dan saya menyalipnya terlalu dekat jarak 150 m. Gilaaaa terlalu dekat menyalip mobil saja jadi pelanggaran. Saya harus mengulanginya lagi, berarti uang ujian 2×110 euro. Kira2 habis uang +- 2400 euro. Sekarang harganya kira-kira naik 20%.
Yang kedua kali akhirnya saya lulus, alhamdulilah. Serasa banggaaaa sekali Ich bin dankbar dafür. Cihuuuui Deutsche Führerschein ditangan dan untuk seumur hidup hehehe..tidak ada masa habis berlaku. Padahal saya paling malas menyetir mobil. Apa daya di Jerman harus semua dilakukan sendiri, nggak ada yang nolong kalau mau ke dokter, belanja, ke rumah teman, dll.
8 Comments »
Leave a comment
-
Archives
- May 2009 (3)
- March 2009 (1)
- February 2009 (3)
- January 2009 (4)
- December 2008 (4)
- November 2008 (2)
- October 2008 (7)
- September 2008 (1)
- August 2008 (2)
- July 2008 (5)
- June 2008 (2)
- May 2008 (2)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS

Seandainya di Jakarta aja peraturan pembuatan sim seperti di Jerman, saya jamin deh:
jakarta gak macet,motor gak sebanyak sekarang, tol gak laku alias sepi,dan yang pasti gue gak bakalan punya sim kayak sekarang(bayarnya pake apa? Tapi boleh juga tuh peraturan disana kita contek untuk di Indonesia terutama dki, biar jakarta dan orang-nya bersih dari pungli and bayar sana sini.
Danke Na, udah mampir. Masalahnya yg paling utama kejujuran orang indonesianya dalam mengatur segal hal. Nggak akan beres2 kalo korupsi masih berjalan lancar.
Mahal be’eng (banget). Kalo 1 Euro = 10 ribu berarti untuk dapat 1 SIM seharga 6.080.000. Tapi untuk ukuran orang Jerman dengan taraf hidup dan perekonomian yang baik, sejumlah itu gak seberapa kali ya?
Blog Irda sudah sedikit dipoles ya. ada tambahan foto dan marginnya dibetulin. Danke
Makasih Saad udah mampir salah 1 euro=Rp. 13000 X 2400 = Rp.31.200.000,- Buat orang jerman juga mahal loh Pak. Makanya anak2 mereka dari kecil sudah disuruh menabung utk buat SIM kalau udah umur 18 thn.
Salam kenal,
Mahal sekalee… Tapi emang musti gitu. Murah2 repot dijalan.
3 bulan nyupir ngga pake sim. Sambil juga les nyupir. Belon sempet lulus kena tilang( eh apa namanya di Jerman? Denda deh 500 DM. Cicil 10 x. He he..
Salam,
Itu foto Irda ya
Kok sekarang jadi bule ya
Halo Mbak, salam kenal yah…
Saya baru 2 tahun di Jerman, rencana mau bikin SIM secepatnya.
Begitu baya blog nya mbak saya jadi nervöus banget.
Pikiran saya tadinya dgn SIM Indonesia masih bisa dapt kemudahan dengan penggantian segala macam, berarti saya tetep harus tetep ke Fährschule yah…
Ttrims banget yah Mbak buat infonya.
Danke juga udah baca curhatku. Semoga rien ngga ada kesulitan dlm membuat SIM jrmn seperti diriku. Ayoo semangaat!!