Pengalaman Melahirkan di Jerman
Memang manusia hidup itu ada tahap2nya. Dari bayi dibesarkan ayah ibu, kemudian menginjak masa sekolah, remaja, berangkat dewasa, bekerja meraih cita dan cinta. Alhamdulilah saya pun ketemu jodoh, dan tantunya ingin punya anak. Dulu tuh tidak terpikir secara detail, bagaimana rasanya punya anak, melahirkan, menyusui, memberi makan dgn benar dan abar, apa yg harus dilakukan jika anak sakit dll. Saya pikir kalau sudah waktunya juga pasti bisa. Kata Deutscher, komm Zeit komm Rat.
Terkadang saya tanya juga sih, melahirkan itu sakit ya ? Ya iyaaaa lah, hanya mereka tidak pernah menceritakan secara terperinci dari awal s.d akhir proses melahirkan. Sepertinya itu tema yg tabu. Jadi malu juga kalau bertanya. Akhirnya pengetahuan tentang itu cuma samar-samar. Datang dan tinggal di jerman pertama-tama adalah beradaptasi dgn lingkungan baru suami, dan memilih untuk meneruskan kuliah atau punya anak. Dua- duanya sama- sama berat. Jumlah penduduk jerman diperkirakan menurun. Dari 82,4 juta orang di thn 2006 menjadi 69 juta orang di thn 2050. Kupilih yang kedua supaya tidak sendiri di rumah dan menambah penduduk jerman hehe..
Setelah dipositivkan hamil anak pertama oleh dokter kandungan , mulailah terasa kalau hamil itu mual-mual, nggak bisa makan. Lapaar terus, tapi semua makana tersa tidak enak. Mengantuk ters, bawaannya lemas. Sampai dengan usia kehamilan 7 bulan, periksa kehamilan setiap bulan pergi ke dokter. Karena jaraknya jauh, repot juga kalau tidak punya SIM dan tak ada angkot. Infra stuktur di jerman bagus. Jalan rayanya dibuat dgn mulus. Antara satu perkampungan dgn tempat daerah yg lain selalu dipisahkan dgn sawah gandum atau lahan kosong, yang tidak boleh dibangun apapun/ tidak akan mendapat IMB.
Dokter akan memberikan buku ibu (Mutter Pas), setelah kandungan berusia 10 minggu. Karena dipastikan tidak akan keguguran . Idenya bagus juga agar si ibu tidak kecewa jika mengalami keguguran. Mutter Pas itu berisi tentang perkembangan ibu hamil, berat badan yg bertambah berap kilo sebulannya, Apakah diabete/tidak, darah tinggi/tidak, keaadaan detak jantung bayi dll. Periksa darah dan air seni setiap bulan itu wajib setor.
Jika ingin melihat bayi dalam kandungan, kita mendapat jatah gratis USG 3x selama hamil . Mulai minggu ke 18, baru kita tahu jenis kelamin bayi. Saya paling suka ke dokter kandungan menjelang usia kandungan 7 bulan. Dengan alat yg menurutku canggih, saya bisa mendengar detak jantung bayi dan terlihat goresan di kertas, apakah si ibu merasa mual/tidak. Pemerisaan kurang lebih 1/2 jam. Jika bentuk goresan di atas itu bergelombang turun naik seperti ombak dan teratur, berarti si ibu telah mengalami wehen/mulas.
Dokter juga menjelaskan beberapa kemungkinan cara melahirkan seperti :
- Spontan Geburt / melahirkan secara alamiah tanpa bantuan apapun.
_Wasser Geburt/ melahirkan di dalam air (im Badewanne)
_Dengan pemberian PDA (pedurial anestesi) / pembiusan lokal di bawah punggung utk mengurangi rasa mual.
_ Caesar Schnitt (woow paling takut dioperasi )
Setelah termin/jadwal waktu bayi pertama telah lewat 5 hari, suami & family mulai cemas dan tak sabar lagi. Saya sih sabar saja bawa tambur di badan. Betah juga anak ini diperutku. Padahal dokter telah menentukan kapan bayi diperkirakan akan lahir, dengan menghitung hari pertama datng bulan terakhir,ditambah 9 bulan 7 hari.
Rasa mulas itu akhirnya datang juga. Dulu kupikir, aaah teman2ku saja yg badannya lebih kecil dariku , semua bisa melahirkan dgn selamat. Jika ditanya apa yg harus dilakukan ketika akan melahirkan, jawabannya pasti bercanda. Pokonya kaya makan pisang hehehe…Ibarat kumis baplang dan tebalnya pak Raden di film si Unyil, saya masuk Kreissaal/kamar bersalin dengan penuh keyakinan dan percaya diri, sambil berdoa siap menghadapi pertempuran. Sebelumnya perawat rumah sakit bertanya menu makanan yg kita inginkan. Yang jelas saya pilih makanan halal.
Alamaaaaak mulas itu mulai datang. Yang tadinya tidak beraturan, sekarang tiap 10 menit sekali. Tak ada waktu utk beristirahat. ”Kumis baplang pak Raden itu langsung melorot turun”. Tadinya sih nggak mau menangis, tapi sakinya itu loh 100x lebih dari datng bulan, tak tertahankan. Duduk salah, berbaring slah, berdiri apalagi. Pokoknya serba salah. Rasanya mau lari saja dari kenyataan itu. Benar2 tidak bisa dikendalikan.
Bidan dan dokter dengan sangat ramahnya mengajak bicara dan mengelus-elus punggungku dan menjelaskan pembukaan baru 4cm. Mereka ramah semua, nggak tahu deh jika di indonesia apa ramah2 seperti di jerman. Semuanya gratis lagi. Kalau sudah melahirkan diberi uang mengurus anak (Erziehungsgeld). Bayi baru bisa keluar jika pembukaan telah 10cm. Ketika saya minta dibius lokal, sudah terlambat karena pembukaan telah 7cm. Saya hanya bisa berdoa dan pasrah. Untung suami boleh masuk ruang bersalin dan memberi semangat agar tetap kuat dan sabar. Sebenarnya si dia mengantuk..maklum tengah malam.
Saking gencarnya mulas, saya sampai kepanasan minta dikipasi dgn koran. Eeeh suami malah panik ambil koran dibasahi lalu ditempel di dahi hehehe. Kalau ingat itu lucuuu. Pengalaman tak terlupakan. Akhirnya si jagoan keluar dgn selamat, alhamdulilahirobbilaaalamiin, setelah berjam2 ngeden, dan mendorong bayi keluar. Sambil menangis terharu suami memotong ari-ari bayi, menggendongnya dan memberikan adzan. Kemudian dimandikan oleh suami dan bidan, ditimbang 4,3 kg panjang 57cm. Saya hanya bisa melihat dan mengigit bantal, maklum harus dijahit, ampun deh. Setelah diberi pakaian langsung, bayi diberikan nama ditangannya agar tidak tertukar dan diberikan kepadaku utk disusui.
Sebenarnya air susu belum ada yg ada hanya cairan kuning / Colustrum (lupa2 ingat namanya) yang berguna utk kekebalan bayi. Saya baru tahu kalau air susu itu akan keluar setelah melahirkan 4 hari kemudian. Meskipun demikian setiap 3 jam baya harus disusui. Setelah 4 hari dadaku terasa sakit sekali, rasanya keras seperti mangkok mie bakso. Wuiiih jika tersentuh aujubillah sakitnya. Terkadang sambil menangis saking sakitnya jika menyusui, apalagi tengah malam. Supaya bayi nggak nangis terus, di rumah kutambahkan susu formula biar kenyang dan lebih lama tidur.
Menjadi seorang ibu itu adalah pengalama terindah tapi penuh tanggung jawab. Apalagi di LN tak ada pembantu, jauh dari saudara, semua diurus sendiri. Peranan suami sangat penting. Perlindungan dan kasih sayangnya sangat diperlukan. Kalau bisa ambil cuti libur kerja kantor. Membantu isrti menyiapkan segala yg diperlukan. Lain kali saya mau cerita kenapa di Eropa tidak mau punya anak/ banyak anak, salam. (ceritaku ini pernah dimuat di koki-kompas edisi 22-12-2006)
6 Comments »
Leave a comment
-
Archives
- May 2009 (3)
- March 2009 (1)
- February 2009 (3)
- January 2009 (4)
- December 2008 (4)
- November 2008 (2)
- October 2008 (7)
- September 2008 (1)
- August 2008 (2)
- July 2008 (5)
- June 2008 (2)
- May 2008 (2)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS

waaahhhhh serrrruuu banget nih proses persalinannya, ada lucunya juga yak. Asik neh buat bekel ngelahirin nanti, at least bisa bayangin gmn situasinya…tapi tau deh tar pas kejadian. Tar ta’ cerita-in juga deh Teh…
Iya, ditunggu loh ceritanya hehehe…
Ass,
Salam Kenal Mbak Irda…
…)
Gak sengaja sua blognya, dan senang baca tulisan2nya,
apalagi sy jg mendambakan kehidupan seperti mbak, punya anak sampai 3 dan dapat berbagi + stay di suatu negara yg care ama keluarga (maksudnya diperhatikan in detail + gratis
Ditunggu tulisan2 selanjutnya…:)
Wassalam,
Wass,
salam kenal juga Nirma, terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar, semoga bermanfaat ya.
HAlow Mbak Irda, salam kenal ya..
aku dewi, aku jg di Jerman, tepatnya do Kota Kassel dan skrg aku sdg hamil 7bulan, tulisan mbak sangat2 membantu aku dlm mempersiapkan mental utk melahirkan, maklum anak pertama hehehe.. mbak, aku pengen ngobrol lbh intens lg dgn mbak,klo boleh tau ada ID YM? ID Ym ku dewi_pohan@yahoo.com, ditunggu ya replynya..
wedewww teteh saya jg dah pernah ngerasain suakiiitnya melahirkan, pa lagi ngeluarin yg kecil ampuuuun pengen kabur tuh dr ruang bersalin! soale diinduksi sakitnya berlipat-lipat ampe nangis bo!! hiiiiyyyy alhamdulillah lahir selamat n pinter gak ninggalin “bekas” soale si emak gak perlu di jahit hihihi