Mein wunderbares Haus

Hanya sebuah tempat Curhat

Bunyi-bunyian

Belum seminggu pulang mudik dari Indonesia, tentunya masih terasa segar ingatan di kepala. Khususnya buat suami dan anak-anakku yang belum biasa mendengar bunyi-bunyian yang jarang terdengar atau bahkan tak ada di jerman. Mereka menyanyikan atau menirukan suara2 yang pernah didengarnya.

Sampai sekarang pun suami sering menirukan bunyi-bunyian yang selalu datang mulai pukul 4 subuh. Pertama-tama nyanyian pengantar sebelum adzan subuh, dilanjut dengan bunyi bedug subuh. Jam 5 subuh penjaja kue donuts telah nyaring berbunyi dengan kencangnya.. donuts…. donuts… masih hangat.  Diikuti dengan suara knalpot motor tetangga yang sengaja dipanaskan pukul 5.15 dan 10 menit kemudian berangkat kerja.

Pukul 6 pagi paling heboh bunyi-bunyian dari suara knalpot motor, suara radio tukang roti yg cukup kerasnya berbunyi rotiii…. rotiiiii cherish bakery……, kemudian pukul 7 datang suara mangkok bubur ayam…ping..ping…ping… jam 8 datang suara kuuupat…kupat…. hhmm lontong sayur yang bikin aku kangen terus.  Tak lama kemudian sekitar jam sembilanan ada tukang sayur dan tukang ayam, bersahutan menjajajakan dagangannya. Yur sayuuur… dan ayam… yam… Jam 10 pagi ada suara lagi sagurangiii sagurangiii, halaaaah apalagi tuuh. Semacam kue pancong yang parutan kelapanya kasar-kasar. Jam 11 mulai datang bunyi tok ..tok… tok… alias tukang somay.

Tepat pukul 12 siang bunyi adzan berkumandang memanggil orang untuk sholat zhuhur. jam satu siang ada tukang bakso dengan suara khasnya ting…ting…ting. Dan juga bunyi tukang mie ayam dengan nada yg sama. Hampir setiap pukul 2 siang datang pengamen jalanan menyanyikan lagu yang sama. Jreng..jreng…  dari awal kulihat, aku tak percaya  padamu……. wo ooooh… kamu ketahuan …pacaran lagi dengan dirinya….. teman baiiikku. Hehehe… ini lagu sampe inget liriknya cuma nggak tahu siapa yang nyanyinya, dasaaaarrrr.

Pukul 3 mulai lagi ada bunyi tukang bubur ketan, Buburr.. bubuuuurrrr. Mendekati setengah empat  sore adzan  untuk sholat ashar menggema. Pukul 4 sore anak2 yang baru saja selesai mandi, bermain di depan rumah teriak-teriak dan cekikikan, bercanda seolah tiada beban dalam hidup ini.   Sampai dengan menjelang pukul 6 sore mereka bermain. Kemudian terdengar bunyi bedug adzan maghrib. Pukul 7 malam Tukang bakso dengan suara ting..ting..ting nya menyapaku setiap malam. Dilanjut pukul 8 malam tukang sate, membuatku selalu ingin membeli . Satttteeeey… aduuh ampun deh, dilanjut panggilan tukang nasi goreng dgn memukul pancinya. Menjadikan suara yang khas tek…tek….tek.. pukul 9 malam. Mungkin ini yang terakhir, pukul 10 malam atau lebih…menjelang  tengah malam suara penjaja skoteng dengan ting… ting…ting nya sedikit mengganggu orang yang hendak menuju ke peraduannya di malam hari. Terkadang bunyi suara binatang toke dari rumah tetangga, menyela kesunyian malam dengan berbunyi tokkkeeee, sampai 7x.

Apa boleh buat semua harus didengarnya mau tidak mau, dan berulang-ulang dan harus bangun tersentak di pagi buta, kembali mendengar suara nyanyian puji-pujian terhadap Khalik dan nabiNya. Kata anakku  Maxi, ”mama… oooh Gott schon wieder das Lied wird gesungen !”  (dimuat di edisi koki-kompas kolaborasi dgn Reef dgn judul songs for you  tgl 7 april 08 )) 

Maret 9, 2008 - Ditulis oleh Irda | Kultur, Lingkungan, makanan | | & Komentar

& Komentar »

  1. Hallo Irda, aq jadi Heimweh nih kalau baca tulisanmu

    Komentar oleh Anita | Maret 14, 2008

  2. Mama,, ohh Gott schon wieder das Lied wird gesungen.

    He he he… Ungkapan yang polos dan dalam.

    Lain ladang lain belalang. Hidup di tengah hiruk pikuk pasti beda dengan hidup dikeheningan Jerman. Gak cuma di Indonesia, tapi juga di banyak negara dunia ketiga. System kapitalis yang menggurita turut membuat bunyi2an itu tetap ada, entah sampai kapan.

    Tek…tek…tek… I love this game!

    Komentar oleh Ahmad Lukman | Maret 17, 2008

  3. Buka Mata, itu nyata…hanya di INDONESIA euy….

    Komentar oleh titi dy | Maret 26, 2008

  4. Teh, kalo bunyi-bunyian di rumah ibuku begini : ‘ tok-tok tok…so…baksooo……neng Evi mana neh?’..hehehhe , beneran lo, para tukang bakso di rumah ibuku selalu berenti sejenak di depan rumah, dan ngetok2, sambil memanggil namaku…..karena aku dulu investor terbesar mereka….duh…..indahnya masa lalu………

    Komentar oleh buburkacangijopakeketanitem | April 9, 2008

Tinggalkan komentar